BERRDUA MENDAKI GUNUNG MERBABU, TIK TOK SAJA YOK

Alhamdulillah setelah beberapa waktu lalu berjanjian dengan seorang teman untuk melakukan pendakian tik tok di Gunung Merbabu, akhirnya terlaksana juga. Yuk simak ceritanya.

15 Juli 2018
Sekitar pukul ½ 7 pagi saya berangkat dari rumah menuju tempat kos teman yang berada di seputaran Kampus UGM. Sesampainya di kos, ternyata teman saya namanya Fajar Yulianto, ternyata masih belum bangun juga (astaghfirullah)..hehe.

Ya sembari menunggu dia bersiap untuk menyiapkan segala sesuatunya, saya pun menunggu dengan sabar. Setelah semua persiapan selesai, sekitar pukul 8 pagi kami dengan berboncengan motor, langsung bergegas menuju Basecamp Cunthel, Merbabu.

Kami memberi kisah perjalananan ini “Jalan-jalan” karena memang kami tidak tergesa-gesa untuk melakukan pendakian tik tok, pokoknya sesampainya saja asal semua bisa berjalan baik dan aman.

Sempat mampir juga di pasar daerah (jaraknya tidak jauh dari Base Camp Wekas. Kalo tidak salah si, nama tempatnya Pasar Ponahan atau Pasar Pogalan ya? Kami sarapan dulu di warung sekitar, dan sambil ngobrol2 kami lanjutkan dengan membeli beberapa logistik makanan. Saya sekedar membeli air mineral 600 ml. pocari yang kemasan tanggung,  teh pucuk yang kecil itu, dan beng-beng berjumlah 6 (ada pula madu, namun saya sudah membawanya dari rumah). Ini bekal pribadi saya loh. Mengingat pendakian tiktok yang butuh dengan bawaan ringan, maka persiapkan saja bekal yang sekiranya mencukup kebutuhan kita dari naik sampai turun kembali.

Sekitar jam 10.30 kami lanjutkan kembali perjalanan.
Alhamdulillah tidak jauh dari Pasar Ponahan/Pogalan kami sampai di daerah Kopeng. Karena kami belum pernah sekalipun mendaki lewat jalur sini, kami mencoba melihat-lihat arah petunjuk basecamp.
Oia kami sempat mampir sebentar di warung, untuk membeli nasi rames, yang rencana kami akan jadikan bekal diperjalanan naik.

Perjalanan kami lanjutkan menuju desa tertinggi di wilayah setempat, yakni Desa Cunthel.  
Alhamdulillah sekitar 10 menit dari warung tadi, kami sampai di Desa Cunthel. Karena basecampnya tutup kami coba lanjut naik ke atas. Setelah berdiskusi, akhirnya kami putuskan untuk menititipkan motor di salah seorang  di rumah penduduk.

Setelah kami melakukan pemanasan dan persiapan ringan, bismillah sekitar jam 11 siang kami memulai perjalanan.

“Target dari tik tok kali ini adalah sampai menara saja. Dengan asumsi waktu perjalanan 3 jam atau jam 14.00 sudah sampai menara.”

Yah. Dengan memulai ngobrol-ngobrol ringan, pos demi pos kami lewati. Di awal perjalanan sampah-sampah cukup banyak tercecer di pinggir jalur pendakian. Namun secara keseluruhan (sampai menara) jalur pendakian ini cukup bersih dan masih asri dibanding jalur-jalur pendakian yang pernah kami lalui.
Jalurnya masih bagus, tipe treknya ya hampir naik terus, namun menjelang Pos Pasar Kergo jalannya mulai landai, saya rasa disini ada beberapa tempat yang bagus untuk camping.

Hampir disetiap perjalanan ada-ada saja yang diobrolkan, pokoknya meski mendakinya cuman berdua ya berasa ramai…hehe.

Sewaktu melakukan perjalanan naik, jarang sekali kami menemui pendaki yang turun kecuali hanya beberapa rombongan saja. Dan benar saja memang pada saat itu Merbabu sedang sepi, tampak dari atas di Pos Air dari jalur Kedakan terlihat hanya 1-2 tenda saja (ini keliatan karena jalur Merbabu via kedakan, berada di sisi barat posisi bawah dari jalur Cunthel).

Sekitar jam 13.59 alhamdulillah kami sampai di menara. Terlihat beberapa pendaki yang sedang beristirahat di sana, nampaknya mereka sedang melakukan perjalanan turun. 
Kami pun berfoto-foto sebentar lalu beristirahat dan makan bekal nasi rames yang telah kami beli tadi.
Kabut yang mulai turun mulai dirasa oleh kulit kami, dingin brr…
Yah telah kami sepakati jam 14.45 kami akan lanjut turun ke basecamp. Setelah makan memang berbeda dengan sebelum makan, pendakian turun pun berasa mulai bertenaga kembali. 

Dalam pendakian turun kami berusaha untuk memungut beberapa sampah yang kami temukan. Ya memang  tidak sepenuhnya, tapi paling tidak kami berusaha meminimalisir sampah-sampah anorganik di sepanjang perjalanan. Sempat kami jumpai beberapa pendaki yang naik, untuk melepas lelah, kami pun bercanda-canda .

Alhamdulillah sekitar pukul 16.30 kami sampai di Desa Cunthel. Kami segera mengambil motor yang kami titipkan di rumah salah seorang penduduk, lalu kami menuju Masjid untuk bersih-bersih dan sholat. Nama masjidnya Baiturahman. 

Setelah dirasa cukup dan sempat foto-foto lagi, karena sore itu cuaca sangat cerah, maka sekitar pukul 17.30 kami putuskan bergegas balik ke Jogja
..
Catatanku : 
Rata-rata waktu yang kami butuhkan dari basecamp menuju menara sekitar 3 jam,
Untuk perjalanan turun kami menghabiskan waktu 1 jam 45 menit
Oia ini dengan tas kecil ya, bukan carier besar.
kami berjalan biasa, namun hampir-hampir jarang berhenti. Berhenti saja tidak lebih dari 5 menit, sekedar minum saja dan ngobrol.

Tips:
Jangan lupa selalu membawa mantel hujan meskipun hanya tik tok,
sesuaikan kemampuan fisik kita dengan teman, jangan sampai teman kita terlalu memforsir fisiknya demi mengimbangi fisik kita, atau sebaliknya. 
Manajemen air sangat penting bro, sesuaikan dengan jarak perjalanan, kebutuhan dehidraasi tubuh dan banyaknya air yang dibawa.
Bawalah makanan yang bentuknya kecil tapi mempunyai kandungan energi yang besar, seperti madu, coklat, gula jawa.
Jangan bawa makanan yang memicu haus, ini biasanya makanan yang asin.
Tetap semangat dan berpikir positif

Ya seperti itulah pendakian singkat kami,
Semoga bermanfaat..

Pembelajaran dahulu dan masa kini, Abad 21

Mmh, ngomong-ngomong tentang belajar, maka identik belajar itu identik dengan sekolah. So, kira-kira sama tidak nih belajar yang berlangsung di sekolah jaman dahulu dengan jaman atau abad 21 ini. Yuk kita coba telusuri aja yap.

(Pertama) Jika dahulu guru lebih aktif untuk berbicara, sedangkan siswa cederung untuk mendengarkan, menulis, menyimak, memperhatikan. Di era 21 ini, guru lebih banyak mendengarkan siswa, terjadi interaksi yang seimbang antara guru dan siswa, adanya komunikasi dua arah saat berdebat, berdialog, sehingga peran guru disini selayaknya fasilitator bagi pembelajaran para siswa. Siswa yang dahulunya cenderung pasif, duduk manis di kelas, sekarang aktif menyelidiki dan menjadikan guru seolah-olah partner/rekan belajar yang ramah.

(kedua) Jika dahulu siswa hanya berpedoman pada guru atau buku saja, sekarang siswa bisa menggunakan fasilitas jejaring internet, sehingga siswa dapat mendapatkan informasi yang lebih luas. Dengan luasnya dan canggihnya perkembangan teknologi, misal saja Youtube, dimana banyak sekali video-video tutorial atau animasi maka hal ini dapat menjadikan siswa mampu melihat/membayangkan suatu materi pelajaran yang sulit sekali dibayangkan oleh siswa jika diterangkan secara lisan saja.

(Ketiga) Terjadinya pembelajaran yang kooperatif. Jika dahulu siswa hanya menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, maka kini harus ada dialog antar guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.

"Kita harus tahu bahwa ilmu tidak bisa masuk ke otak sekaligus. Oleh karena itu kita mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh guru, dosen, instruktur atau lainnya agar ilmu tidak hilang begitu saja."
 

Cerita Tentang Panjat Tebing



Panjat tebing merupakan salah satu olahraga yang terbilang ekstrim.
Ya, bisa dibilang berbahaya apabila tidak disertai pengamanan yang sudah tersertifikasi. Banyak orang yang berpendapat kalo olahraga panjat tebing ini salah satu olahraga yang paling menantang, toh tidak semua orang berani mencobanya. Adapun yang berani mencoba, biasanya dia cenderung kapok, “udah ah, cukup sekali aja”. Ya begitulah celoteh temen2 baru yang baru kali pertama mencoba yang sering saya denger.   Ada juga yang kali pertama melihat sebuah wall climbing atau boulder, sering bergumam “ah, aku bias itu”, atau kalo sudah mencoba “itu susah dipegang ya batu-batunya”, dan seterusnya... Hhheee..
Ya begitulah sekelumit cerita tentang panjat tebing. Olahraga yang full bermain dengan otot tangan, terutama otot jari tangan.

Disini saya coba menjelaskan semampu saya tentang olahraga panjat tebing. Dalam panjat tebing bisa dibagi 3 jenis, yakni jalur panjat tebing untuk olahraga/rekreasi, panjat tebing untuk petualangan, dan panjat tebing untuk prestasi.

1.    Panjat tebing untuk olahraga/rekreasi
Nah ini biasanya dilakukan sekedar untuk refresing saja, alias hanya untuk “fun” atau sekedar cari keringat. Point (batu pijakan / pegangan tangan) yang dipasang pun tidak begitu sulit untuk dipegang, alias mudah sekali. Pokoknya dibikin semudah mungkin, asal si pemanjat bisa sampai atas. Di sini mereka (si pemanjat) tidak perlu menyelesaikan jalur sulit, cukup untuk nenghabiskan waktu saja, dan bisa lebih tinggi daripada temen sebelahnya, itu sudah membuatnya senang. Umumnya mereka tidak mengalokasikan waktu khusus untuk melakukan ini, hanya sebatas ada waktu luang saja atau hanya untuk mencoba2 saja karena penasaran atau  memang butuh olaharaga yang bener2 baru. Yap semua boleh2 saja dilakukan, asal dilengkapi dengan peralatan yang mumpuni, aman, dan ada orang lain yang sudah berpengalaman untuk mengawasi.
Saya pun cenderung ke arah sini. Mencari keringat, meningkatkan jumlah hormon endorphin (pemberi efek rileks), dan refresing. Rasanya jika kita bisa berolahraga tanpa tekanan harus sampai atas atau menyelesaikan jalur, memang sangat menyenangkan.


2.     Panjat tebing untuk petualangan
Melakukan panjat tebing di “big wall” tebing2 besar, diatas desiran angin pantai, atau ditebing2 alam umumnya sering dilakukan oleh temen2 MAPALA (Mahasiswa Pecinta Alam) ataupun SISPALA (Siswa Pecinta Alam). Umumnya mereka ingin mencari sensasi memanjat di tebing alam, jadi seolah-olah kayak di film2 adventure gitu. Ada juga mereka ingin belajar artificial climbing, yakni teknik memanjat tebing dengan menggunakan alat dalam menambah ketinggian.
Untuk melakukan pemanjatan di tebing alam, maka perlu diperhatikan pula jenis tebing, apakah batunya mudah hancur / rapuh atau memang telah direkomendasikan untuk dipanjat. Soalnya kalo ditebing alam karena faktor cuaca hujan dan panas, tebingnya rawan rapuh. Jadi bagi temen2 yang suka melakukan aktivitas panjat tebing di alam, tetap safety first yap.

3.     Panjat tebing untuk prestasi
Nah untuk jalur panjat tebing ini, biasanya akan memunculkan atlet2 baru. Di sini benar2 terprogram dan mereka memanjat untuk mendapatkan sebuah prestasi, ntah mengikuti kejuaraan tingkat daerah, nasional, maupun internasional.