Cerita di Gunung Lawu


Saya bersama anak-anak Puspala (Puspanegara Pecinta Alam) melakukan pendakian di Gunung Lawu yang bertempat diantara perbatasan antara jawa timur dengan jawa tengah. Beberapa hari sebelum hari H, saya dicontact oleh teman saya ( Mas Ata) yang mengkoordinatori kegiatan dari puspala. Kala itu dia meminta bantuan kepada saya agar mau menemani anak-anak Puspala dalam melakukan pendakian gunung secara masal. Rencana awal gunung yang menjadi target masih dilema antara Gunung Merbabu atau Gunung Lawu. “ok!siap bro!” balaz saya terhadap pesan singkat yang dikirimkan by phone. Selang beberapa hari setelah itu, saya diberi kabar kalau gunung yang akan jadi tujuan utama adalah Gunung Lawu yang berada diantara perbatasan propinsi Jateng dengan Jatim.

Selasa, 16 April 2013
Sekitar jam 2 siang, kami berangkat bersama-sama dengan 2 mobil. Jumlah anak-anak dari puspala sendiri ada 17 anak, sedangkan dari pembimbing alias para senior ada 5 orang. “cap cus….berangkat..!!!!

Perjalanan yang terasa membosankan, sekitar 4 jam-an berada di atas jok mobil. Akhirnya jam 6 petang, nyampai ke BaseCamp deh. BaseCamp di Gunung Lawu ada dua yaitu Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Jarak antara kedua BaseCamp ini tak begitu jauh sekitar 8 KM, tapi kami memilih BaseCamp Cemoro Sewu sebagai pos awal kami.

Makan, sholat, istrihat dan segala persiapan kami lakukan kembali. Sekitar jam 8 malam, kami bersiap-siap untuk mendaki Gunung Lawu, tapi sebelumnya sang Komandan Puspala yang dipegang oleh mas Aan, memberi beberapa saran dan koordinasi ketika nantinya pendakian dilakukan. Doa pun tidak lupa kami panjatkan kepada sang Khaliq semoga nantinya kami bisa ke puncak dengan selamat dan  kembali ke rumah dengan keadaan selamat. Amin
Sekitar 7 jam-an kami berjalan, udah lewatin pos 1, pos 2, akhirnya sampai post 3.
Karena kondisi peserta yang capek sekali dan terasa kantuk pada diri mereka. Kami (Saya, Mas Aan, dan Mas Ata) berkoordinasi sebentar untuk menentukan langkah selanjutnya. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan camping di dekat shelter pos 3.

Koordinasipun dibentuk kembali, ada sebagian anak-anak puspala terutama yang cewek untuk memasak air atau makanan, dan khusus untuk anak-anak yang cowok, mereka memdirikan tenda. Makan pun terjadi secara bebarengan! “Sungguh suasana yang sangat mengharukan, ketika kebersamaan terjadi, semua terasa indah”.

Habis makan, kami pun tidur di tenda masing-masing. Paginya kami bersiap siap untuk melanjutkan menuju puncak, dengan hanya dibekali air dan makanan secukupnya kami bergegas menuju puncak. Kali ini anak-anak puspala di pegang alih oleh saya. Sedangkan beberapa senior yang lain menetap dipos 3 untuk menjaga barang.

Karena kondisi fisik anak-anak yang berbeda-beda, jarak antara terdepan dengan terbelakang pun bisa dibilang sangat jauh. Tapi karena koordinasi yang cukup apik oleh mas Re, semua bisa dikendalikan dengan baik.

Jam 8-an pagi, akhirnya satu persatu tiba di Puncak Hargo Dumilah. Tak lupa kami melakukan foto-foto bersama, sambil istrihat sebentar, dan menikmati indahnya suasana alam dari ketinggian 3248 MDPL. 

Sekitar jam 10 kami pun turun, langsung menuju pos 3 untuk bergabung kembali dengan para senior yang tadinya menetap di Camp. Setelah kami makan, istirahat berkemas. Jam 1 kami turun menuju base camp Cemoro Sewu. Alhamdulillah kami nyampai di BaseCamp sekitar yang 4 sore.
 
Selanjutnya kami berbersih diri dan tak lupa kami makan lagi di warung dekat BaseCamp dengan menu soto dan nasi goreng yang terasa enak sekali.

Jam 6 kami pulang menuju Jogja. Alhamdulillah kami sampai di Jogja sekitar jam 10-an dengan selamat. Anak-anak pun kembali kerumah masing-masing dengan dijemput orangtuanya.

Oke. Sekian dulu cerita saya. Terimakasih.

BERAWAL DARI PUSPALA (SISPALA DI SMA 5 N YOGYAKARTA)

“Seperti apa rasanya panjat tebing itu? Apakah sangat mengerikan?

Tidak kok, tapi sangat menyenangkan.
Ini hobi yang tidak sengaja aku dapat ketika aku mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler di SMA N 5 YOGYAKARTA.
Oiya, sebelumya perkenalkan dulu saya "Fitriyanto" , bisa disapa "Fitri".
Kala itu saya masuk SMA N 5 YOGYAKRTA pada tahun angkatan 2006/2007. Sungguh sangat senang sekali bisa masuk salah satu SMA favorit di kota Jogja.

Dimulai dari menginjak bangku kelas 2, saya mempunyai teman yang kebetulan mengikuti ektrakurikuler sekolah yang biasa disebut dengan “Pecinta Alam”, di sini disebut dengan PUSPALA (Puspanegara Pecinta Alam). Awalnya memang saya sudah lama tertarik dengan kegiatan outdoor seperi pecinta alam ini. Tapi karena pada waktu kelas 1 masih takut-takutan akhirnya tidak berani ikut.

Pada waktu awal latihan, kegiatan yang pertama saya lakukan adalah repling. Repling adalah salah satu jenis kegiatan yang menggunakan tali tapi ini sifatnya turun, jadi kebalikannya dengan memanjat. Sungguh sangat menyenangkan sekali saat perdana saya melakukan hal yang cukup terbilang ekstrem ini.

Selang beberapa waktu saya diajak oleh teman-teman Puspala untuk bermain tali juga, tapi kali ini berbeda dengan repling, sekarang waktunya panjat tebing. Saya diajak di jembatan Babarsari, yang berada di Babarsari, Sleman. Waktu diperjalanan menuju lokasi, saya selalu membayangkan seperti apa tempatnya itu. Apakah seperti ini, itu, atau sebagainya.

Setibanya dilokasi,..
Sungguh menakjubkan..
Banyak organisasi pecinta alam lainnya yang sedang berlatih disana, entah itu repling, panjat tebing, atau lainnya.

Alat pun segera dipasang oleh seorang teman, sempat mengalami kesulitan dalam pemasangan. Karena kami masih terbilang masih pemula, akhirnya kami mendatangi seorang yang sedang melakukan pemanjatan (entah siapa namanya), agar beliau bersedia mengecek tali pengaman yang sudah kami pasang.

Giliran memanjat sayapun tiba, setapak demi setapak saya coba raba tebing buatan tersebut, entah baru berapa meter dari ketinggian awal, rasanya saya sudah tidak kuat menarik badan  dan tangan saya terasa sangat kaku. Akhirnya dibantu beberapa teman, saya ditarik keatas.

Sungguh ini pengalaman saya memanjat tebing. Tidak kapok rasanya saya manjad, setiap ada agenda latihan Puspala, saya selalu mengusulkan untuk memanjat saja (atau kami sering menyebutnya nge-wall).