“Seperti apa rasanya panjat tebing itu? Apakah sangat mengerikan?
Tidak kok, tapi sangat menyenangkan.
Ini hobi yang tidak sengaja aku dapat ketika aku
mengikuti salah satu kegiatan ekstrakurikuler di SMA N 5 YOGYAKARTA.
Oiya,
sebelumya perkenalkan dulu saya "Fitriyanto" , bisa disapa "Fitri".
Kala itu saya masuk SMA N 5 YOGYAKRTA pada tahun angkatan 2006/2007. Sungguh
sangat senang sekali bisa masuk salah satu SMA favorit di kota Jogja.
Dimulai dari menginjak bangku kelas 2, saya mempunyai
teman yang kebetulan mengikuti ektrakurikuler sekolah yang biasa disebut dengan “Pecinta
Alam”, di sini disebut dengan PUSPALA (Puspanegara Pecinta Alam). Awalnya
memang saya sudah lama tertarik dengan kegiatan outdoor seperi pecinta
alam ini. Tapi karena pada waktu kelas 1 masih takut-takutan akhirnya tidak berani ikut.
Pada waktu awal latihan, kegiatan yang pertama saya
lakukan adalah repling.
Repling adalah salah satu jenis kegiatan yang menggunakan tali tapi ini
sifatnya turun, jadi kebalikannya dengan memanjat. Sungguh sangat menyenangkan
sekali saat perdana saya melakukan hal yang cukup terbilang ekstrem ini.
Selang beberapa waktu saya diajak oleh teman-teman
Puspala untuk bermain tali juga, tapi kali ini berbeda dengan repling, sekarang
waktunya panjat tebing. Saya diajak di jembatan Babarsari, yang berada di
Babarsari, Sleman. Waktu diperjalanan menuju lokasi, saya selalu membayangkan
seperti apa tempatnya itu. Apakah seperti ini, itu, atau sebagainya.
Setibanya dilokasi,..
Sungguh
menakjubkan..
Banyak organisasi
pecinta alam lainnya yang sedang berlatih disana, entah itu repling, panjat
tebing, atau lainnya.
Alat pun segera
dipasang oleh seorang teman, sempat mengalami kesulitan dalam pemasangan.
Karena kami masih terbilang masih pemula, akhirnya kami mendatangi seorang
yang sedang melakukan pemanjatan (entah siapa namanya), agar beliau bersedia
mengecek tali pengaman yang sudah kami pasang.
Giliran memanjat sayapun
tiba, setapak demi setapak saya coba raba tebing buatan tersebut, entah baru
berapa meter dari ketinggian awal, rasanya saya sudah tidak kuat menarik
badan dan tangan saya terasa sangat
kaku. Akhirnya dibantu beberapa teman, saya ditarik keatas.
Sungguh ini pengalaman
saya memanjat tebing. Tidak kapok rasanya saya manjad, setiap ada agenda
latihan Puspala, saya selalu mengusulkan untuk memanjat saja (atau kami sering
menyebutnya nge-wall).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar