Cerita di Gunung Prau 2565 mdpl


Agak heran juga sih, mendengar “Gunung Prau”. Kirain sih Tangkuban  Perahu. Karena penasaran, akhirnya saya cek deh ke google. Dari kebanyakan tulisan yang saya baca, banyak yang mengatakan kalau pemandangan dari Gunung Prau sangat bagus. Memang sih tak terlalu tinggi, hanya 2565 mdpl. Tapi karena gambar yang keren ketika search  image, membuat saya tertarik untuk membuktikan pemandangan di sana.

Jumat, 25 April 2014
Sekitar jam 1 siang, saya meluncur ke Lapangan Denggung, di Kabupaten Sleman untuk bertemu dengan seorang teman. Sekitar jam 2 saya sampai di lokasi dan kami pun masih menunggu beberapa  teman yang lain. Setelah 2 jam-an kami menunggu, atau sekitar jam 4 sore mereka pun datang.

Kami dari arah Jogja dengan total 6 orang 
berangkat menuju Alun-alun Temanggung sebagai meeting point kedua. 

Menjelang Maghrib kami tiba di Alun-alun  Temanggung.Segera saja  saya melaksanakan sholat Maghrib di Masjid, sembari menunggu teman yang lain dari Temanggung. 

Pukul 8 malam, 4 orang tiba di Alun-alun Temanggung. Lalu segera meluncur menuju BaseCamp. Dengan posisi semua berbocengan, dan dengan kondisi  jalan yang naik turun melintasi bukit, serta kabut yang tebal. Alhamdulillah sekitar pukul 11.30 malam, kami tiba di Base Camp desa Patak banteng dengan selamat.
(Perlu diketahui juga, di Gunung Prau terdapat 2 jalur pendakian yaitu dari Desa Patak Banteng dan dari Desa Dieng Kulon)

Sambil melepaskan lelah, acara ngopi2 pun dimulai. Karena perut yang juga keroncongan, mie instant pun menjadi makan malam pengisi energi sebelum pendakian dilakukan.

Sekitar pukul ½ 2 malam
Diawali dengan berdoa bersama kami start melakukan pendakian. Dengan berjalan santai dan kadang tawa cakap-cakap mengiringi perjalanan kami, membuat rasa capek menjadi tak terasa. 

Pendakian di Gunung Prau ini hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam-an, memang tak terlalu lama, tapi track / jalur pendakian yang hampir 2/3 nya miring sekali atau hampir berasa vertical membuat pendakian di Gunung Prau ini mempunyai sense sendiri.

Saya yang termasuk pendaki “Keong Hitam” berjalan di posisi belakang, meski awalnya pendakian dilakukan berurutan, tapi karena beban carrier yang berbeda membuat jarak yang cukup jauh antara yang depan dengan yang di belakang.

Sabtu, 26 April 2014
Sekitar pukul 4.30 pagi. Alhamdulillah kami tiba di camping ground. Di sini sudah ada beberapa tenda dari pendaki lain. Tenda pun segera kami dirikan. Tak selang beberapa lama, sunrise pun menyambut kedatangan kami. Tak sempat tidur dahulu, kami bergegas mengambil kamera masing-masing untuk mengabadikan moment special tersebut. Karena cuaca yang cerah, sunrise pun terlihat jelas.




Puncak Gunung Sindoro pun terlihat sangat keren. Apalagi di sebelah selatannya ada Gunung Sumbing yang seolah-olah menjadi bayang-bayang Gunung Sindoro.


Sedikit demi sedikit matahari pun mulai memancarkan panas cahayanya.Dan pendaki yang sebelumya telah nge -camp sini bergegas untuk turun. Sedangkan kami memutuskan untuk turun esok (Minggu) pagi.


Sabtu sore hari, setelah siangnya diguyur hujan. Beberapa pendaki mulai berdatangan kembali ke camping ground. Menjelang malam pun suasana semakin ramai saja. Dan camping ground kini dipenuhi oleh oleh suara riuh para pendaki dan kerlap –kerlip senter.

Minggu, 27 April 2014
Pukul 5 pagi setelah menunaikan sholat subuh, saya melihat banyak pendaki yang tengah bersiap-siap untuk menikmati sunrise. Tapi alhasil karena awan yang menutupi, sunrise pun tak terlihat begitu jelas. Menjelang siang saya pun berjalan-jalan mengelilingi camping ground.



Dan WAOW..
Sekitar 200-an pendaki atau bahkan lebih  memadati camping ground area. Warna-warni tenda yang berjarak cukup berdekatan membuat saya berasa di kampung pendaki saja. hee

Dan setelah saya buktikan “tentang gambar yang ada di "GOOGLE, Ternyata memang benar kalau Gunung Prau mempunyai view yang sangat bagus. Konon “jika cuaca cerah 9 puncak gunung, dapat dilihat sekaligus”, tutur seorang pendaki kepada saya.


Tak ingin melewatkan hari terakhir di Gunung Prau, saya berserta seorang teman pendaki mencoba menjelajah kawasan sekitar dan ingin tau tentang kawasan bukit teletubies.

Waoooww
Keren
Subhanallah
Indahnya Ciptaan Sang Kholiq. Tak bisa saya ceritakan dengan kata-kata, pokoknya teman2 harus cobain deh pemandangan dari Gunung Prau ini.

Sebagai tambahan bonus, saya pun dapat menyaksikan Kawah  Dieng, Telaga warna dari posisi atas, 
  

Seperti dari helikopter. Saya pun  jadi tak penasaran lagi tentang Dieng. hee..

Sekitar pukul 8.30 pagi kami packing barang-barang dan bersiap untuk turun ke base camp. Karena banyaknya pendaki yang juga turun, jadi turun gunung pun harus antri.


Alhamdulillah kami tiba di base camp dengan selamat sekitar pukul 1 siang







Sekian dan terimakasih

Cerita di Gunung Merapi 2913 mdpl


Sabtu-Minggu, 12-13 April 2014 
 
Kali ini saya mau menceritakan pendakian solo kedua saya di Gunung Merapi, yang beralamat di Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Awalnya saya sempat mengajak teman untuk mengadakan pendakian ke Gunung Merapi, tapi karena dia ada kepentingan mendadak, akhirnya dia tak bisa ikut.

Sabtu 12 April 2014
Sekitar jam 2 siang, saya berangkat dari rumah (Jogja) dengan mengendari sepeda motor. Berharap cuaca cerah namun sebelum memasuki wilayah Jawa Tengah (masih di area Sleman) hujan deras pun datang.


Sekitar 1 jam-an berteduh, sambil menunggu hujan reda. Saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan tepat pukul 4 sore.

Sekitar pukul 6 petang, saya sempatkan sholat maghrib dahulu di Masjd dekat BaseCamp BARAMERU. Di BaseCamp, saya bertemu dengan seorang pendaki asal BEKASI yang juga akan melakukan pendakian solo ke gunung MERAPI.

Base camp yang awalnya hanya terdapat beberapa motor dari para pendaki (yang sudah melakukan pendakian terlebih dahulu), lama-lama menjadi ramai. Sekitar pukul 7-9 malam, banyak pendaki yang berdatangan dari Solo, Jogja, Semarang, Klaten, dll.


Pukul 9 malam, saya pun bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Pendaki dari Klaten yang berjumlah 6 orang pun ternyata juga akan melakukan pendakian. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat bersama-sama.

Pukul 10 malam, kami meninggalkan BaseCamp BARAMERU menuju puncak MERAPI. Sekitar  1 jam perjalanan, kami sampai di pos 1 / shelter.
Kami pun beristirahat sebentar di pos 1.

Sesaat akan melanjutkan kembali perjalanan, tiba-tiba gerimis pun datang. Akhirnya kami malah ngopi-ngopi dulu, sambil menunggu gerimis berhenti.

Pukul 12 malam, gerimis pun berhenti dan kami bersiap-siap lagi melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan santai dan pelan, saya yang suka menganalogikan diri saya sebagai "Keong Hitam" (karena saya berjalan cukup pelan dibanding para pendaki yang lain), akhirnya kami tiba di WATU GAJAH pukul 3.30 pagi. Tenda pun segera didirikan. Karena kondisi badan sudah cukup lelah, kami pun langsung beranjak istirahat.

Pos WATU GAJAH berada pada punggungan bukit, jadi sangat terasa dingin sekali. Meskipun kami dalam posisi tidur, tapi karena dinginnya Gunung Merapi kami pun hanya sekedar memejankan mata saja.

Minggu, 13 APRIL 2014
Sekitar pukul 7.30 setelah sarapan mie goreng. Saya dan 6 pendaki asal Klaten melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Dengan posisi tenda masih berdiri dan kami biarkan seperti itu. Saya hanya membawa barang-barang yang penting saja, seperti mantel, logistic, kamera dan air.

Karena cuaca yang sangat cerah, kadang kami sempatkan untuk berfoto-foto dahulu. Kami pun bertemu pendaki luar negeri yang habis turun dari puncak. Saya pun mengajak mereka untuk foto bersama. Dan lucunya seorang dari kedua pendaki tersebut sangat menyukai lonceng yang kebetulan menggantung pada carrier saya.

Karena mereka belum bisa menggunakan Bahasa Indonesia, dalam bahasa inggris dia mengatakan,“saya sangat menyukai lonceng seperti ini, saya mempunyai lonceng juga, tapi saya menghilangkannya dan jangan kamu menghilangkannya”

Pukul 8 pagi lebih, kami sampai di In MEMORIAN (dekat dengan PASAR BUBRAH). Cuaca yang cerah memang sangat menguntungkan pada waktu itu, karena puncak terlihat dengan sangat jelas, dan kira-kira membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menuju puncak.

Sekitar 1/2 perjalanan dari PASAR BUBRAH menuju puncak. Cuaca pun berubah drastis dan gerimis datang kembali. Tapi saya tetap memutuskan untuk menuju puncak, sedangkan 6 pendaki asal Klaten memutuskan untuk kembali ke pos WATU GAJAH.

Sekitar pukul 9 pagi dengan gerimis masih menemani. Alhamdulillah saya sampai di Puncak. Setelah foto-foto dan menikmati keindahan yang disajikan oleh Puncak, akhirnya saya memutuskan kembali turu.

Pukul 10 saya tiba di Pos WATU GAJAH,
Saya pun memutuskan untuk membuat mie goreng lagi dan makan roti sebagai pengisi tenaga.


Setelah membongkar tenda dan packing. Sekitar pukul 11 saya melanjutkan perjalanan turun, Bersama teman pendaki asal Klaten yang kebetulan bertemu lagi di WATU GAJAH.

Perjalanan turun, kami lakukan dengan santai saja, saya sang Keong Hitam berada pada urutan terakhir

Karena saya tak tega dengan Gunung yang dikotori sampah para pendaki. Saya putuskan untuk melakukan bersih gunung
secara sukarela. Sambil membawa trash bag. Saya memunguti sampah-sampah plastik yang saya temukan di perjalanan turun menuju NEW SELO.

Alhamdulillah pukul 1.30 siang, kami tiba di NEW SELO dengan selama. Sampah yang tadi saya kumpulkan saya taruh di tempat sampah yang berada di JOGLO NEW SELO.

Saya berfoto-foto dahulu dengan teman pendaki asal Klaten. Meski saya tak tahu jelas nama-nama mereka,
tapi dengan adanya mereka pendakian ini tak sekedar mendaki gunung tapi juga sebagai ajang silahturahmi bagi sesama pendaki gunung.

 
Dari NEW SELO,
Kami turun menuju BaseCamp BARAMERU,
Setelah melepas sejenak kami berpamitan dan semoga nantinya akan bertemu kembali di Gunung yang berbeda dengan kisah yang berbeda pula.
Pukul 3 sore, saya dari BaseCamp BARAMERU menuju Jogjakarta. Alhamdulillah dengan berkendara santai saya tiba di rumah sekitar pukul ½ 6 sore.