Cerita di Gunung Merapi 2913 mdpl


Sabtu-Minggu, 12-13 April 2014 
 
Kali ini saya mau menceritakan pendakian solo kedua saya di Gunung Merapi, yang beralamat di Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Awalnya saya sempat mengajak teman untuk mengadakan pendakian ke Gunung Merapi, tapi karena dia ada kepentingan mendadak, akhirnya dia tak bisa ikut.

Sabtu 12 April 2014
Sekitar jam 2 siang, saya berangkat dari rumah (Jogja) dengan mengendari sepeda motor. Berharap cuaca cerah namun sebelum memasuki wilayah Jawa Tengah (masih di area Sleman) hujan deras pun datang.


Sekitar 1 jam-an berteduh, sambil menunggu hujan reda. Saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan tepat pukul 4 sore.

Sekitar pukul 6 petang, saya sempatkan sholat maghrib dahulu di Masjd dekat BaseCamp BARAMERU. Di BaseCamp, saya bertemu dengan seorang pendaki asal BEKASI yang juga akan melakukan pendakian solo ke gunung MERAPI.

Base camp yang awalnya hanya terdapat beberapa motor dari para pendaki (yang sudah melakukan pendakian terlebih dahulu), lama-lama menjadi ramai. Sekitar pukul 7-9 malam, banyak pendaki yang berdatangan dari Solo, Jogja, Semarang, Klaten, dll.


Pukul 9 malam, saya pun bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Pendaki dari Klaten yang berjumlah 6 orang pun ternyata juga akan melakukan pendakian. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat bersama-sama.

Pukul 10 malam, kami meninggalkan BaseCamp BARAMERU menuju puncak MERAPI. Sekitar  1 jam perjalanan, kami sampai di pos 1 / shelter.
Kami pun beristirahat sebentar di pos 1.

Sesaat akan melanjutkan kembali perjalanan, tiba-tiba gerimis pun datang. Akhirnya kami malah ngopi-ngopi dulu, sambil menunggu gerimis berhenti.

Pukul 12 malam, gerimis pun berhenti dan kami bersiap-siap lagi melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan santai dan pelan, saya yang suka menganalogikan diri saya sebagai "Keong Hitam" (karena saya berjalan cukup pelan dibanding para pendaki yang lain), akhirnya kami tiba di WATU GAJAH pukul 3.30 pagi. Tenda pun segera didirikan. Karena kondisi badan sudah cukup lelah, kami pun langsung beranjak istirahat.

Pos WATU GAJAH berada pada punggungan bukit, jadi sangat terasa dingin sekali. Meskipun kami dalam posisi tidur, tapi karena dinginnya Gunung Merapi kami pun hanya sekedar memejankan mata saja.

Minggu, 13 APRIL 2014
Sekitar pukul 7.30 setelah sarapan mie goreng. Saya dan 6 pendaki asal Klaten melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Dengan posisi tenda masih berdiri dan kami biarkan seperti itu. Saya hanya membawa barang-barang yang penting saja, seperti mantel, logistic, kamera dan air.

Karena cuaca yang sangat cerah, kadang kami sempatkan untuk berfoto-foto dahulu. Kami pun bertemu pendaki luar negeri yang habis turun dari puncak. Saya pun mengajak mereka untuk foto bersama. Dan lucunya seorang dari kedua pendaki tersebut sangat menyukai lonceng yang kebetulan menggantung pada carrier saya.

Karena mereka belum bisa menggunakan Bahasa Indonesia, dalam bahasa inggris dia mengatakan,“saya sangat menyukai lonceng seperti ini, saya mempunyai lonceng juga, tapi saya menghilangkannya dan jangan kamu menghilangkannya”

Pukul 8 pagi lebih, kami sampai di In MEMORIAN (dekat dengan PASAR BUBRAH). Cuaca yang cerah memang sangat menguntungkan pada waktu itu, karena puncak terlihat dengan sangat jelas, dan kira-kira membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menuju puncak.

Sekitar 1/2 perjalanan dari PASAR BUBRAH menuju puncak. Cuaca pun berubah drastis dan gerimis datang kembali. Tapi saya tetap memutuskan untuk menuju puncak, sedangkan 6 pendaki asal Klaten memutuskan untuk kembali ke pos WATU GAJAH.

Sekitar pukul 9 pagi dengan gerimis masih menemani. Alhamdulillah saya sampai di Puncak. Setelah foto-foto dan menikmati keindahan yang disajikan oleh Puncak, akhirnya saya memutuskan kembali turu.

Pukul 10 saya tiba di Pos WATU GAJAH,
Saya pun memutuskan untuk membuat mie goreng lagi dan makan roti sebagai pengisi tenaga.


Setelah membongkar tenda dan packing. Sekitar pukul 11 saya melanjutkan perjalanan turun, Bersama teman pendaki asal Klaten yang kebetulan bertemu lagi di WATU GAJAH.

Perjalanan turun, kami lakukan dengan santai saja, saya sang Keong Hitam berada pada urutan terakhir

Karena saya tak tega dengan Gunung yang dikotori sampah para pendaki. Saya putuskan untuk melakukan bersih gunung
secara sukarela. Sambil membawa trash bag. Saya memunguti sampah-sampah plastik yang saya temukan di perjalanan turun menuju NEW SELO.

Alhamdulillah pukul 1.30 siang, kami tiba di NEW SELO dengan selama. Sampah yang tadi saya kumpulkan saya taruh di tempat sampah yang berada di JOGLO NEW SELO.

Saya berfoto-foto dahulu dengan teman pendaki asal Klaten. Meski saya tak tahu jelas nama-nama mereka,
tapi dengan adanya mereka pendakian ini tak sekedar mendaki gunung tapi juga sebagai ajang silahturahmi bagi sesama pendaki gunung.

 
Dari NEW SELO,
Kami turun menuju BaseCamp BARAMERU,
Setelah melepas sejenak kami berpamitan dan semoga nantinya akan bertemu kembali di Gunung yang berbeda dengan kisah yang berbeda pula.
Pukul 3 sore, saya dari BaseCamp BARAMERU menuju Jogjakarta. Alhamdulillah dengan berkendara santai saya tiba di rumah sekitar pukul ½ 6 sore.


2 komentar: