Kali ini saya mau menceritakan
pendakian solo kedua saya di Gunung Merapi, yang beralamat di Selo, Boyolali,
Jawa Tengah. Awalnya saya sempat mengajak
teman untuk mengadakan pendakian ke Gunung Merapi, tapi karena dia ada
kepentingan mendadak, akhirnya dia tak bisa ikut.
Sabtu 12 April
2014
Sekitar jam 2 siang,
saya berangkat dari rumah (Jogja) dengan mengendari sepeda motor. Berharap cuaca cerah namun sebelum memasuki wilayah Jawa Tengah (masih di area Sleman) hujan deras pun
datang.
Sekitar 1 jam-an
berteduh, sambil menunggu hujan reda. Saya putuskan untuk
melanjutkan perjalanan tepat pukul 4 sore.
Sekitar pukul 6 petang,
saya sempatkan sholat maghrib dahulu di Masjd dekat BaseCamp BARAMERU. Di BaseCamp, saya
bertemu dengan seorang pendaki asal BEKASI yang juga akan melakukan pendakian solo
ke gunung MERAPI.
Base camp yang awalnya
hanya terdapat beberapa motor dari para pendaki (yang sudah melakukan pendakian
terlebih dahulu), lama-lama menjadi ramai. Sekitar pukul 7-9 malam,
banyak pendaki yang berdatangan dari Solo, Jogja, Semarang, Klaten, dll.
Pukul 9 malam, saya pun bersiap-siap untuk melakukan pendakian. Pendaki dari Klaten yang berjumlah 6 orang pun ternyata juga akan melakukan pendakian. Akhirnya kami putuskan untuk berangkat bersama-sama.
Pukul 10 malam, kami
meninggalkan BaseCamp BARAMERU menuju puncak MERAPI. Sekitar 1 jam perjalanan, kami sampai di pos 1 /
shelter.
Kami pun beristirahat
sebentar di pos 1.
Pukul 12 malam, gerimis
pun berhenti dan kami bersiap-siap lagi melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan santai
dan pelan, saya yang suka menganalogikan diri saya sebagai "Keong Hitam" (karena
saya berjalan cukup pelan dibanding para pendaki yang lain), akhirnya kami tiba
di WATU GAJAH pukul 3.30 pagi. Tenda pun segera didirikan. Karena kondisi badan sudah cukup lelah, kami pun langsung beranjak
istirahat.
Pos WATU GAJAH berada
pada punggungan bukit, jadi sangat terasa dingin sekali. Meskipun kami dalam
posisi tidur, tapi karena dinginnya Gunung Merapi kami pun hanya sekedar
memejankan mata saja.
Minggu, 13 APRIL 2014
Sekitar pukul 7.30 setelah sarapan mie
goreng. Saya dan 6 pendaki asal Klaten melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Dengan posisi tenda
masih berdiri dan kami biarkan seperti itu. Saya hanya membawa
barang-barang yang penting saja, seperti mantel, logistic, kamera dan air.
Karena cuaca yang sangat
cerah, kadang kami sempatkan untuk berfoto-foto dahulu. Kami pun bertemu pendaki
luar negeri yang habis turun dari puncak. Saya pun mengajak mereka
untuk foto bersama. Dan lucunya seorang
dari kedua pendaki tersebut sangat menyukai lonceng yang kebetulan menggantung
pada carrier saya.
Karena mereka belum bisa menggunakan Bahasa Indonesia, dalam bahasa inggris dia mengatakan,“saya sangat menyukai lonceng seperti ini, saya mempunyai lonceng juga, tapi saya menghilangkannya dan jangan kamu menghilangkannya”
Pukul 8 pagi lebih, kami sampai di In MEMORIAN (dekat dengan PASAR BUBRAH). Cuaca yang cerah memang sangat menguntungkan pada waktu itu, karena puncak terlihat dengan sangat jelas, dan kira-kira membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menuju puncak.
Sekitar 1/2 perjalanan
dari PASAR BUBRAH menuju puncak. Cuaca pun berubah
drastis dan gerimis datang kembali. Tapi saya tetap
memutuskan untuk menuju puncak, sedangkan 6 pendaki asal Klaten memutuskan
untuk kembali ke pos WATU GAJAH.
Sekitar pukul 9 pagi dengan gerimis masih menemani. Alhamdulillah saya
sampai di Puncak. Setelah foto-foto dan menikmati
keindahan yang disajikan oleh Puncak, akhirnya saya memutuskan kembali turu.
Pukul 10 saya tiba di
Pos WATU GAJAH,
Saya pun memutuskan
untuk membuat mie goreng lagi dan makan roti sebagai pengisi tenaga.
Perjalanan turun, kami
lakukan dengan santai saja, saya sang Keong Hitam
berada pada urutan terakhir
Karena saya tak tega
dengan Gunung yang dikotori sampah para pendaki. Saya putuskan untuk
melakukan bersih gunung
secara sukarela. Sambil membawa trash bag. Saya memunguti
sampah-sampah plastik yang saya temukan di perjalanan turun menuju NEW SELO.
Alhamdulillah pukul 1.30
siang, kami tiba di NEW SELO dengan selama. Sampah yang tadi saya
kumpulkan saya taruh di tempat sampah yang berada di JOGLO NEW SELO.
Saya berfoto-foto dahulu
dengan teman pendaki asal Klaten. Meski saya tak tahu
jelas nama-nama mereka,
tapi dengan adanya
mereka pendakian ini tak
sekedar mendaki gunung tapi juga sebagai ajang silahturahmi bagi sesama pendaki
gunung.
Dari NEW SELO,
Kami turun menuju BaseCamp BARAMERU,
Setelah melepas sejenak
kami berpamitan dan semoga nantinya akan bertemu kembali di Gunung yang berbeda
dengan kisah yang berbeda pula.
Pukul 3 sore, saya dari
BaseCamp BARAMERU menuju Jogjakarta. Alhamdulillah dengan
berkendara santai saya tiba di rumah
sekitar pukul ½ 6 sore.
mantap ..
BalasHapusanggit
siaappp, mas bro!
BalasHapus