Cerita Pendakian Semeru 11-12-13


10 Desember 2013, hari Senin.

Saya fitriyanto asal Jogjakarta bersama teman yang saya kenal lewat kegiatan KKN PPL di kampus UNY, Bayu Rona Famolah dan Himawan Ardi Suhendra, melakukan perjalanan pendakian Gunung Semeru, di Malang Jawa timur. Senin malam jam 10, hari kami bertemu di stasiun Tugu Jogjakarta. Kami bergegas menuju Malang dengan kereta api Malioboro Ekpres. Sekitar jam 6 pagi, kami sampai di stasiun kota Malang. Di sana kami menaiki angkot menuju pasar Tumpang, untuk mencari angkutan lain menuju Ranu Pane, yaitu Base Camp Gunung Semeru. Setelah sempat sarapan di warung, kami tiba di pasar Tumpang. 

Ketika kedua teman saya sedang bernegosiasi dengan pemilik truk, saya yang sedang duduk-duduk sendiri, tiba-tiba disapa seorang cewek dan cowok yang saya kira mereka adalah penduduk sekitar yang dari berbelanja di pasar. Namanya Rasti dan Rudy. Setelah ngobrol dan berkenalan, ternyata mereka adalah pendaki asal Pontianak, Kalimantan Barat. Dan ditambah seorang lagi (namanya Eny), jumlah mereka adalah 3 orang. 

Lalu saya dan kedua teman saya pergi ke Puskesmas terdekat untuk mencari surat keterangan sehat. Setelah kembali ke tempat transit sementara (di pasar Tumpang), kami juga bertemu dengan pendaki asal Jakarta (Pendaki dari Akademi Maritim Pembangunan), Bangka Belitung, dan Lombok. Total kami ada 14 orang, bersama-sama menaiki truk menuju BaseCamp Ranu Pane. Biaya per individu adalah 35 ribu. Itu sih masih terbilang murah dibandingkan dengan naik jip / hard top mencapai 250 ribu untuk 4 orang (cerita seorang pendaki yang bertemu di pos Kalimati). 

Sempat truk berhenti di dekat warung, supaya pendaki yang belum makan bisa sarapan terlebih dahulu. Sekitar pukul 11 siang, kami sampai di Ranu Pane. Rombongan dari pendaki Akademi Maritim Pembangunan (AMP) yang berjumlah 7 orang bergegas melakukan pendakian. Sekitar pukul 11.30 disusul rombongan pendaki dari Pontianak, Lombok, Bangka Belitung, dan Jakarta yang bergabung menjadi 1 tim dengan total 6 pendaki. 

Selanjutnya, setelah saya dan kedua teman saya melaksanan sholat, pukul 12.30 kami mulai mendaki.
Sekitar pukul 18.00 kami tiba di Ranu Kumbolo, kami mendirikan tenda dan siap untuk memasak. Saya pun sering menyempatkan diri menyapa teman pendaki yang bersama-sama naik truk tadi. Hingga kami sepakat untuk melakukan mendaki bersama-sama. Di hari berikutnya, sekitar pukul 11 siang kami bersama-sama meninggalkan Ranu Kumbolo menuju Pos Kalimati. Sempat turun hujan dari kawasan Cemara kandang samapi Kalimati. Alhamdulillah, kami tiba di Kalimati dengan selamat. Meski gerimis dan kabut sering menyelimuti, kami bergegas untuk mendirikan tenda. 

Pukul 8 malam, kami bergegas tidur karena jam 11 malam kami berencana bangun dan bersiap menuju puncak Mahameru. Sekitar pukul 1 malam, kami berkumpul dan ditambah 5 pendaki asal Jakarta dan Sukabumi, total pendaki yang akan menuju puncak ada 18 orang. 

Sebelum pendakian dimulai, kami sempatkan berdoa dahulu. Meski kabut dan gerimis sering turun, kami tetap bersemangat dan saling menjaga. Pukul 6.30 pagi saya dan seorang pendaki asal Jakarta tiba duluan di puncak Mahameru. Keadaan di Mahameru kabut berair, dan jarak pandang pun skitar 10-15 meter. Suhu mencapai sekitar 14 Derajat C. 

Sekitar 1 jam lamanya berada di puncak, saya dan beberapa pendaki memutuskan untuk turun dahulu, meski ada rombongan lain yang belum sampai ke puncak. Perjalanan turun dari puncak menuju Kalimati pun diwarnai dengan hujan. 

Alhamdulillah, sekitar pukul 11.30 siang semua pendaki tiba di Kalimati dengan selamat. Pukul 16.30 rombongan pendaki asal Pontianak, Lombok, Jakarta, dan AMP Jakarta memutuskan untuk turun ke Ranu Kumbolo, menyusul rombongan pendaki dari Sukabumi dan Jakarta yang terlebih dahulu turun ke Ranu Kumbolo. 

Pukul 18. 00 saya dan kedua teman saya turun ke Ranu Kumbolo. Pukul 19.30 kami sampai di Ranu Kumbolo dan bergegas mendirikan tenda. Karena kedua teman saya terlalu capek, mereka langsung beranjak tidur. Saya akhirnya bergabung dengan teman pendaki dari Pontianak, yang ternyata mereka adalah anak-anak Pramuka Indonesia. Kami pun makan malam bersama, ditemani dinginnya angin malam Ranu Kumbolo. 

Selanjutnya, saya, Rasty dan Rudy (teman dari Pontianak) pergi menuju perapian yang berada di Shelter dan ditambah seorang Porter yang kebetulan mengantarkan tamu dari Jawa Barat. Kami ngobrol-ngobrol tentang seputar gunung Semeru dan film 5 cm, yang perah dibikin di Gunung Semeru. Pukul 11 malam, saya memutuskan untuk kembali ke tenda, sholat lalu tidur. 

Jum’at pagi setelah kami sarapan bersama, kami mengambil foto bersama-sama dan ada pula yang saling bertukar nomor HP dan Facebook.

Pukul 11 siang, kami total ada 21 pendaki turun bersama ke Ranu Pane melewati jalur yang berbeda dari jalur berangkat sebelumnya. Perjalanan turun ditemani guyuran hujan, dan kadang kabut yang datang menghampiri. Alhamdulillah sekitar pukul 16.30 kami dengan selmat tiba di Base Cap Ranu Pane. 

Di sana pun jemputan truk tengah menunggu. Setelah istirahat sejenak, minum kopi hangat, dan makan di warung setempat. Saya menyempatkan diri membeli kenang-kenangan berupa kaos. 

Tak lupa saya memberikan kedua buah lonceng yang sering saya kenakan di carrier pada teman pendaki asal Jakarta (namun agaknya saya lupa namanya), kacamata hitam milik saya pun, saya berikan pada teman pendaki, Irna asal Jakarta. Pukul 17.30 kami bersama-sama lagi menuju tempat transit dengan truk. 

Pukul 18.30 kami sampai di tempat transit dan kamipun berpencar untuk mencari tiket pulang ke rumah masing-masing. Saya dan kedua teman saya mendapat tiket pulang dnegan kereta api Malioboro Ekspres, hari sabtu pukul 8 pagi. 

Alhamdulillah kami bertiga asal Jogjakarta sampai selamat di Stasiun Tugu Jogjakarta pukul 3 sore. 

“ini adalah pendakian terhebat yang pernah saya lakukan. Pengalaman yang InsyaaAllah tak akan pernah saya lupakan.” Terimakasih kepada Bayu Rona Famolah dan Himawan Ardi Suhendra yang berkenan mengajak saya mendaki ke gunung tertinggi di Pulau Jawa,  Gunung Semeru, Malang Jawa Timur. 

Terimakasih kepada teman pendaki asal Pontianak (Rasty, Rudy, Eny), wawan asal Lombok, Irna (Jakarta), teman dari Bangka Belitung, teman pendaki dari Akademi Maritim Pembangunan Jakarta, teman pendaki dari Jakarta, Sukabumi dan semuanya yang saya belum begitu hafal nama-namanya. 

Kalian semua adalah teman pendaki hebat dan dengan adanya kalian pengalaman ini menjadi sangat berarti. Semoga kita akan bertemu lagi dengan cerita pendakian yang baru.amin 

Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar